20 Mei 2009

Flu babi (swine flu)

Flu babi (swine flu) adalah penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini sebenarnya jamak menyerang ternak babi, namun kini telah mengalami perubahan dan mampu untuk menginfeksi manusia. Gejala yang timbul pada manusia pun mirip dengan apa yang terjadi pada babi.

Flu babi pertama kali diisolasi dari seekor babi yang terinfeksi pada tahun 1930 an di USA. Pada perkembangannya, penyakit ini dapat berpindah ke manusia terutama menyerang mereka yang kontak dekat dengan babi. Sekian lama tidak terdengar lagi ternyata virus ini mengalami serangkaian mutasi hingga muncul varian baru yang pertama kali menyerang manusia di Meksiko pada awal tahun 2009. Varian baru ini dikenal dengan virus H1N1 yang merupakan singkatan dari dua antigen utama virus yaitu hemagglutinin tipe 1 dan neuraminidase tipe 1.

gejala flu babi?

Gejala utama flu babi mirip dengan gejala influenza pada umumnya spt : demam, batuk, pilek, letih dan sakit kepala. Beberapa pasien dapat mengalami mual, muntah dan diare.

Penyakit ini dapat jatuh ke arah yang lebih buruk hingga pasien mengalami kesulitan untuk bernafas dan memerlukan alat bantu nafas (ventilator). Bila ada bakteri yang ikut menginfeksi paru paru maka pasien dapat mengalami radang paru paru atau pneumonia. Beberapa diantaranya dpt mengalami gejala kejang kejang. Kematian umumnya terjadi karena adanya infeksi sekunder bakteri pada paru paru sehingga diperlukan antibiotika yang pas untuk mengatasi infeksi tersebut.

diagnosa flu babi?

Diagnosa flu babi berdasarkan gejala klinis pasien dan riwayat kontak dengan mereka yang memiliki gejala seperti diatas. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan lendir atau dahak yang berasal dari tenggorokan pasien. Pemeriksaan ini gunanya untuk membedakan apakah virus yang menginfeksi penderita termasuk virus tipe A atau B. Bila hasilnya adalah virus tipe B maka dapat dipastikan bahwa pasien tersebut bukan terinfeksi flu babi. Namun bila ternyata hasilnya adalah virus tipe A maka ada kemungkinan penderita tersebut menderita flu babi atau terinfeksi virus H1N1. Sampel ini selanjutnya dikirim ke laboratorium yang lebih lengkap untuk memastikan adanya antigen virus flu babi sehingga diagnosa flu babi dapat ditegakan dengan pasti.

Berapa lama masa penularan virus flu babi?

Orang yang menderita flu babi A (H1N1) menurut para ahli akan tetap menularkan penyakitnya sampai hari ketujuh. Jika sampai hari ketujuh penyakitnya belum membaik maka dianggap orang tersebut masih dapat menularkan penyakitnya sampai gejala flu benar benar hilang. Anak anak khususnya balita memiliki potensi waktu penularan yang lebih panjang.

Periode penularan penyakit flu babi masih terggantung lagi pada jenis atau strain dari virus H1N1. Jika pasien di rawat di rumah dianjurkan untuk tidak keluar rumah dahulu sampai penyakit yang diderita benar benar sembuh kecuali yang bersangkutan segera ke dokter atau ke rumah sakit.

Mengobati flu babi?

Meskipun telah lama ditemukan vaksin untuk mencegah penularan virus influenza, namun vaksin untuk virus flu babi (H1N1) sampai saat ini belum ada. Untuk saat ini beberapa laboratorium pemerintah yang dibiayai oleh WHO sedang mengembangkan penelitian untuk menemukan vaksin virus flu babi.

Dua obat anti virus yang dipercaya mampu mencegah bertambah parahnya flu babi adalah zanamivir (Relenza) dan oseltamivir (Tamiflu). Penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan karena ditakutkan akan terjadi resistensi virus terhadap kedua obat tersebut. Obat ini juga tidak direkomendasikan untuk gejala flu yang telah muncul lebih dari 48 jam. Pada keadaan yang berat, pasien mungkin membutuhkan penanganan intensif lebih lanjut di rumah sakit.

Cara mencegah penularan flu babi?

Cara paling ampuh untuk mencegah penularan virus flu babi pada prinsipnya sama dengan cara mencegah penularan virus influenza yang lain yaitu vaksinasi. Sayangnya vaksin untuk flu babi sampai saat ini belum ditemukan.

Cara lain untuk mencegah penularan virus ini adalah dengan meminimalisir kontak dengan virus seperti mencuci tangan sesering mungkin, jangan menyentuh wajah anda terutama hidung dan mulut serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang menderita flu.

Pencegahan penularan juga bisa dilakukan oleh mereka yang telah terinfeksi dengan cara : menghindari keramaian dan selalu tinggal di rumah. Jangan bekerja dan bersekolah dahulu sampai keadaan membaik. Hindari bersin, batuk dan berbicara terlalu dekat dengan orang lain.

13 April 2009

Aterosklerosis



Merupakan kelainan pembuluh darah yang ditandai dengan penyempitan karena timbunan plak. Akibat menyempitnya pembuluh darah maka jantung tidak mendapatkan makanan yang maksimal, padahal jantung terus berdenyut setiap hari dan memerlukan kalori yang didapatkan dari darah yang mengalir ke jantung. Karena aterosklerosis pula serangan jantung dapat terjadi.

Kecenderungan terkena serangan jantung makin lama makin meningkat jumlahnya, hal ini disebabkan oleh konsumsi makanan yang cenderung pada banyaknya kalori seperti nasi, lemak, gula dan garam. Jika makan berlebihan, akan mengakibatkan kegemukan,. Kolesterol meningkat, penyakit gula juga akan timbul. Semua faktor tersebut akan memicu aterosklerosis.


Bagaimana mencegah aterosklerosis? diantaranya adalah jangan terlalu banyak diam atau jarang beraktifitas, olahraga atau latihan fisik adalah cara yang murah untuk menghindari hal itu, karena berolah raga akan memperlancar aliran pembuluh darah. Hindari stress, karena stress juga salah satu faktor yang menunjang menyempitnya pembuluh darah, disamping itu hindari juga polusi udara (asap, rokok dan lain-lain) karena kualitas udara yang ikut dalam darah juga sangat menentukan.

23 Maret 2009

Apa yang perlu dilakukan bila terjadi keracunan makanan?

Keracunan makanan bisa terjadi dimana saja, sekolah, pabrik, kantor, kendurian dan sebagainya. Lalu apa yang harus dilakukan bila itu terjadi?

  • Tangani penderita sesuai gejalanya (muntah, diare, sakit kepala dan lain-lain) dengan pemberian minuman teh kental ditambahkan gula dan garam dapur sedikit seperti cairan oralit. Berikan telur mentah (putihnya) atau susu untuk menyerap racun bakteri. Berikan obat untuk mengurangi gejala (muntah dan diare, dan lin-lain). Bila gejala ringan tidak perlu dirujuk ke fasilitas pengobatan setempat, bila cukup berat maka hendaknya segera dirujuk ke tempat pengobatan setempat untuk penanganan lebih lanjut. Ambil sampel dari penderita (berupa: muntahan, tinja, darah, urine dan lain-lain) untuk diperiksa dilaboratorium.
  • Amankan sajian makanan dan minuman untuk diambil sampelnya, digunakan sebagai keperluan pemeriksaan laboratorium penyebab keracunan tersebut.
  • Wawancara lapangan terkait dengan pengolah makanan, kebersihan wadah memasak maupun penyajian dan tempat pengolahan.
  • Hasil pemeriksaan perlu diketahui apa penyebab keracunan untuk pencegahan keracunan terjadi lagi dikemudian hari.